Musik terutama musik klasik sangat mempengaruhi perkembanngan IQ (Intelegent Quotient) dan EQ (Emotional Quotient).
Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan lebih
berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya dibandingkan dengan
anak yang jarang mendengarkan musik (Christanday,2007). IQ menyumbang paling banyak 20% bagi kesuksesan hidup seseorang, sedangkan 80% ditentukan oleh Emotional Quotient
(EQ). Kecerdasan akademis praktis tidak menawarkan persiapan untuk
menghadapi gejolak yang ditimbulkan oleh kesulitan hidup. Banyak bukti
yang memperlihatkan bahwa orang yang secara emosional cakap mengetahui
dan menangani perasaan mereka sendiri dengan baik, serta mampu membaca
dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif, memiliki keuntungan
dalam setiap bidang kehidupan (Anonymous, 2004). Kecerdasan
emosi mencakup kemampuan-kemampuan yang berbeda, tetapi saling
melengkapi, dengan demikian pola asuh yang diterapkan pada anak harus
mencakup hal-hal yang mendukung terciptanya peningkatan kecerdasan emosi
pada anak, pemberian pola asuh yang baik akan sangat mempengaruhi
perkembangan kecerdasan emosi pada anak dan perkembangan sosial anak,
oleh sebab itu seorang ayah juga wajib berperan aktif dalam memberikan
asuhan pada anak.
Autisme
adalah sebuah sindrom gangguan perkembangan system syaraf pusat yang
ditemukan pada sejumlah anak ketika masa kanak – kanak hingga masa
sesudahnnya (Purwati, 2007). Salah satu penyebab autis dapat dikarenakan
adanya kelainan pada otak anak, yang berhubungan dengan jumlah sel
syaraf, baik itu selama kehamilan maupun setelah persalinan, kemudian
juga disebabkan adanya kongenital Rubella, Herpez Simplex Enchepalitis, dan Cytomegalovirus Infection (Kurniasih, 2002).
Prevalensi
autisme pada anak berkisar 2 – 5 penderita dari 10.000 anak – anak
dibawah 12 tahun. Sedangkan prevalensi anak autis disertai dengan
keterbelakangan mental perbandinganya meningkat, sebanyak 20 pasien dari
10.000 anak (Pratiwi, 2007). Adapun rasio perbandingannya 3 anak laki –
laki dan 1 anak perempuan (3 : 1). Dengan kata lain, anak laki – laki
lebih rentan menyandang sindrom autisme dibandingkan anak perempuan.
Bahkan diprediksikan
oleh para ahli bahwa kuantitas anak autisme pada tahun 2010 akan
mencapai 60% dari keseluruhan populasi anak di seluruh dunia (Purwati,
2007).
Dari hasil studi pendahuluan tentang pengukuran kecerdasan emosi anak autis yang dilakukan di Pusat Terapi Autis Cahaya Ananda di Kelurahan Kepatihan, Tulungagung pada tanggal 4 Desember 2011 terhadap 3 anak autis. Ditemukan 2 anak mempunyai kecerdasan emosi sedang dan 1 anak mempunyai kecerdasan emosi rendah . Hal ini membuktikan bahwa rata - rata anak autis mengalami gangguan kecerdasan emosi.
Anak
Autisme mengalami gangguan perkembangan yang kompleks yang disebabkan
oleh adanya kerusakan pada otak, sehingga mengakibatkan gangguan pada
perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan sosialisasi, sensori, dan
belajar (Ginanjar, 2001). Anak autisme sering terisolasi dari lingkungan
dan hidup di dunianya sendiri, tidak bisa berbicara secara normal,
berkomunikasi, berhubungan dengan orang lain dan belajar berinteraksi
dengan seseorang. Penyandang autisme pada umumnya tidak mampu
mengembangkan permainan yang kreatif dan imajinatif. Oleh karena itu
mereka membutuhkan stimulasi agar bisa mengembangkan daya kecerdasan
emosidan imajinasinya untuk dapat bersosialisasi dengan orang lain
(Pratiwi, 2007). Terapi
autisme menurut Tjin Wiguna (2002) yang ditulis oleh Astuti (2007)
adalah penatalaksanaan anak dengan gangguan autisme secara terstruktur
dan berkesinambungan untuk mengurangi masalah perilaku dan untuk
meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangan anak sesuai atau paling
sedikit mendekati anak seusianya dan bersifat multi disiplin yang
meliputi: (1) terapi perilaku berupa ABA (Applied Behaviour Analysis), (2) terapi biomedik (medikamentosa), (3) terapi tambahan lainnya yaitu, terapi wicara, terapi sensory integration, terapi musik, terapi diet, dll .
Menurut
Astuti (2007) juga menemukan bahwa musik dapat, memperbaiki kepercayaan
diri, mengembangkan ketrampilan sosial, menaikkan perkembangan motorik
persepsi dan perkembangan psikomotor. Pendapat
ini didukung oleh penelitian yang dilakukan ahli saraf dari Universitas
Harvard, Mark Tramo, (2006). Ia mengatakan, di dalam otak terdiri dari
jutaan neuron yang menyebar di otak akan menjadi aktif saat mendengarkan
musik. Rangsangan neuron itulah yang meningkatkan kecerdasan. Maka dari
itu, diperlukan suatu kerjasama antara tenaga pendidik, tenaga medis,
termasuk perawat serta psikiatri atau psikolog agar dapat mendeteksi
dini dan untuk penanganan secara cepat dan tepat bagi para penderita
autis (Pratiwi, 2007)